9 Fakta Tentang Anak yang Suka Berjalan Jinjit

  • Kamis, 18 Mei 2017 15:45 WIB

Anak mulai berjalan jinjit ketika mulai belajar berjalan sendiri. | BABY CENTER

Nakita.id - Sebagian besar orangtua pasti senang sekali ketika anaknya mulai berjalan. Tapi, ketika mengamati anak terbiasa berjalan jinjit, bisa jadi Ibu lantas cemas. Kok, jalannya jinjit? Apakah anak mengalami masalah?

Menurut Jonathan Strober, MD, Ahli Neurologi Anak dari UCSF Benioff Children's Hospital, San Francisco, cara berjalan si balita yang menggunakan ujung-ujung jari kakinya ini sebenarnya tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Sebab, ini bukan lantas menandakan anak mengalami gangguan serius.

Penelitian yang dilakukan di Swedia memaparkan, lebih dari separuh balita yang memiliki kebiasaan berjalan jinjit akan mulai berjalan normal ketika memasuki usia 5 tahun. Hasil penelitian Pahr Engstrom, MD dari Karolinska Institutet di Stockholm, Swedia, yang dimuat di jurnal Pediatrics mengungkap beberapa fakta penting terkait anak yang suka berjalan jinjit:

1. Selama ini, kebiasaan anak berjalan jinjit seringkali disertai dengan gangguan tertentu, seperti celebral palsy dan muscular dystrophy. Namun, kondisi ini juga sering terjadi pada anak-anak yang tidak mengalami gangguan apa pun.

2. Menurut Engstrom, penyebab anak berjalan jinjit hingga kini masih belum diketahui dengan jelas. Hal ini bisa berkaitan dengan saraf, otot, gabungan saraf dan otot, atau faktor lain yang belum diketahui.

3. Sekitar 5% dari anak balita mengalami fase berjalan jinjit. Namun, memasuki usia kira-kira 5½ tahun, jumlah anak yang masih berjalan seperti ini hanya tinggal kurang dari separuhnya.

4. Anak mulai berjalan jinjit ketika mulai belajar berjalan sendiri. Lepas usia 1 tahun dan setelahnya, anak akan mulai belajar berjalan normal.
 
5. Anak yang tetap berjalan jinjit akan melakukannya hingga sekitar 1-2 tahun, sebelum akhirnya berjalan dengan normal.

6. Bila anak masih berjalan jinjit setelah usia 5½ tahun, biasanya itu tidak dilakukan terus-menerus dan hanya menyita sekitar 25% dari kesehariannya.

7. Anak yang didiagnosis mengalami gangguan kognitif atau neuropsikiatrik, seperti misalnya autisme, biasanya cenderung berjalan jinjit. Dalam studi, 41% anak memiliki kebiasaan berjalan jinjit. Namun, hal ini tidak berarti anak yang berjalan jinjit lantas mengalami gangguan autisme.

8. Anak yang sering menghabiskan waktunya melakukan kegiatan sambil berjinjit bisa mengalami rasa kaku, tegang, dan nyeri pada tendon achilles-nya. Namun, ini bisa diredakan dengan latihan peregangan.

9. Anak berusia di bawah 6 tahun yang suka berjalan jinjit tidak perlu terapi khusus, kecuali cara jalannya ini menyebabkan tendon achilles atau otot betisnya jadi memendek. Untuk kondisi ini, Engstrom menyarankan anak menjalani tindakan operasi.

Sumber : webmd.com

Reporter : Irene Harris
Editor : Dini Felicitas

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×