Begini Cara Tahu Normal atau Tidak Pipis Anak

  • Jumat, 13 Oktober 2017 08:30 WIB

Begini Cara Tahu Normal atau Tidak Pipis Anak

Nakita.id  - Sebelum menilai, normalkah pipis anak, kita ketahui sistem kemih terlebih dulu.

Sistem saluran kemih pada manusia mulai terbentuk saat janin berusia 7 minggu.

Organ utama dalam sistem saluran kemih adalah ginjal. Ginjal sendiri berfungsi sebagai penyaring dari zat-zat sisa yang dihasilkan oleh metabolisme dalam tubuh.

Fungsi penyaring ini pada saat lahir belum sempurna, namun berkembang terus sehingga fungsinya akan sama dengan ginjal dewasa pada saat anak berusia 2 tahun.

Di usia 2 tahun pula, si kecil sudah dapat merasakan keinginan berkemih dan mulai buang air kecil di toilet. Tapi kemampuan untuk tidak mengompol saat tidur baru bisa didapat saat anak berusia 3 tahun.

(Baca juga : Aneka Masalah Pipis Pada Anak dan Cara Mengatasinya)

NORMALKAH PIPIS ANAK? PANTAU LEWAT WARNA

Untuk mengetahui adanya gangguan berkemih, paling awal adalah dengan melihat warnanya.

Warna urine yang normal/sehat pada anak sama seperti pada orang dewasa, yaitu berwarna kekuningan jernih.

Tingkat warna kekuningan pada urine dipengaruhi jumlah cairan yang dikonsumsi. Ada pun derajat warna urine yang baik dapat dilihat dari urinee chart seperti berikut:

 

Derajat warna urine dan jumlah urine menggambarkan kondisi hidrasi pada anak. Dapat pula menunjukkan adanya gangguan pada fungsi hati atau empedu, misalnya pada hepatitis.

Bila berwarna kuning pekat atau seperti warna teh, artinya tubuh kekurangan cairan.

Begitupun warna urine yang kuning cokelat bisa disebabkan kurang cairan pada anak. Bila urine berwarna merah atau merah cokelat dapat berarti anak dalam kondisi dehidrasi berat atau  terdapat gangguan pada ginjal.

Sedangkan warna merah pada urine dapat disebabkan oleh darah di urine. Faktor makanan yang dikonsumsi juga dapat memberikan warna kemerahan pada urine, misalnya setelah anak mengonsumsi buah naga merah atau bit merah.

Kondisi ini tentu tidak perlu dikhawatirkan. Beberapa jenis obat juga dapat memberikan warna urine yang kemerahan atau oranye terang. Contoh, rifampicin pada pengobatan tuberculosis (TBC).

Kemudian, apabila warna urine putih seperti susu atau keruh, hal ini berarti terdapat infeksi pada saluran kemih anak.

Sebaiknya konsultasi dengan dokter dan dilakukan pemeriksaan penunjang seperti urinealisa serta USG ginjal dan kandung kemih.

Lalu, warna kebiruan pada urine dapat disebabkan oleh pewarna pada makanan, suplemen, konsumsi obat-obatan  seperti amitriptyline, indomethacin dan propofol.

Atau dapat disebabkan oleh suatu  kelainan bawaan yang sangat jarang, berupa hiperkalsemia yang diturunkan.

Selain itu, warna biru kehijauan dapat disebabkan oleh adanya infeksi oleh bakteri pseudomonas.

(Baca juga : Ini Penyebab Anak Indra Bekti Meninggal Usai Dilahirkan)

PANTAU FREKUENSI DAN VOLUME

Selanjutnya, Ibu pasti bertanya, bagaimana sih frekuensi BAK yang normal?

Sebenarnya Frekuensi berkemih bervariasi tergantung usia dan perkembangan kapasitas kandung kemih. Frekuensi berkemih berubah dari 5 sampai 2 kali per 4 jam saat anak tumbuh dari usia 3 bulan hingga ke 3 tahun.

Kapasitas kandung kemih pada anak dapat diperkirakan dengan rumus  (usia +2) x 30. Misalnya usia 5 tahun berarti kapasitas buli di kandung kemih: (5+2)x 30 = 210 cc.

Ada juga hitungan yang lebih sederhana, yaitu 1-2 cc/kgBB/jam. Jadi kalau seorang anak beratnya 20 kg, maka per jam, urine yang keluar adalah 20-40 cc karena jumlah inilah yang menjadi kapasitas buli.

Setiap anak yang minumnya normal, biasanya akan kebelet pipis setiap jam sekali.

Bila frekuesi BAK kurang, berarti buli tidak penuh sehingga anak tidak kebelet pipit. Kemungkinan besar anak kurang minum.

Coba perhatikan, semakin anak kurang minum, warna urine-nya akan semakin pekat.

Sebaliknya, frekuensi berkemih si kecil berlebihan. Nah, frekuensi BAK yang berlebihan dapat disebabkan konsumsi cairan yang banyak, udara dingin, kondisi psikologis sedang stres atau gugup (misalnya sedang mau ujian). Hal ini tidak menjadi masalah apabila BAK-nya sering, namun jumlah urinenya banyak/normal setiap BAK.

Apabila frekuensi BAK sering, bahkan berlebihan, namun yang keluar hanya sedikit (istilah-nya “icrit-icrit”), bisa jadi ada infeksi di saluran kemih atau karena kandung kemih yang terlalu sensitif.

Bila ini terjadi, sebaiknya dikonsultasikan ke dokter. Jadi selain frekuensi, warna, maka volume urine si kecil pun harus Ibu pantau. Sekali lagi, apabila BAK sering dan keluarnya sedikit saja per episode BAK, maka ini berarti ada masalah.

(Baca juga : Jangan Biarkan Anak Pipis di Kolam Renang)

PALING SERING INFEKSI SALURAN KEMIH

Adanya gangguan BAK, pada anak yang tersering adalah infeksi pada saluran kemih (ISK).

Adapun gejalanya, selain sering pipis tapi urine-nya sedikit, anak tampak kesakitan atau rewel saat kencing, warna urine yang keruh dan berbau. ISK ringan dapat sembuh sendiri dengan meminta anak minum air putih yang banyak.

Perlu diketahui, pada kondisi normal, saluran kemih seharusnya steril. Bila terdapat bakteri dalam urine, artinya terdapat infeksi.

Hal ini dapat disebabkan oleh seringnya menahan kencing atau aliran urine yang tidak lancar.

Popok yang terlalu kotor dan jarang diganti juga meningkatkan risiko infeksi. Pasalnya, kotoran/feses mengandung banyak bakteri.

Pada anak laki-laki, fimosis meningkatkan risiko infeksi. Fimosis adalah kondisi dimana preputium/kulup pada penis yang terlalu sempit sehingga tidak bisa ditarik ke belakang.

Kondisi ini menyebabkan aliran urine yang kurang lancar dan saat mandi, tidak bisa membersihkan glans penis. Terapinya adalah dengan sirkumsisi/sunat.

Gangguan frekuensi juga cukup sering ditemukan, pada saat lahir bayi berkemih karena refleks.

Seiring perkembangan dan pertumbuhannya, anak akan belajar bagaimana mengontrol saat untuk berkemih sehingga semakin jarang mengompol.

Biasanya saat anak mendekati usia 5 tahun sudah tidak mengompol lagi.

Namun terdapat juga anak yang masih mengompol bahkan hingga usia 15-18 tahun. Apabila anak masih mengompol saat usia sekolah, sebaiknya konsultasi dengan dokter anak terutama bagian tumbuh kembang dilakukan evaluasi apa yang menjadi penyebabnya.

Reporter : Tabloid Nakita
Editor : Ipoel

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×