Pola Asuh yang Membuat Anak Laki-laki Tumbuh Jadi Pria Bertanggungjawab

  • Kamis, 16 Februari 2017 14:15 WIB

Biarkan anak laki-laki menunjukkan emosinya. | HUFFINGTON POST

Nakita.id - Ibu mana yang tidak ingin anak laki-lakinya tumbuh menjadi pria yang bertanggungjawab, penuh perhatian, dan percaya diri? Pertanyaan yang sering dilontarkan kemudian adalah, bagaimana pola asuh agar si buyung tumbuh menjadi pria bertanggungjawab? Nah, simak apa saran para ahli berikut ini:

1. Bantu Anak Mengelola Emosinya
“Stereotip yang beredar di luar tentang pria adalah sosok yang tegar dan terkendali, serta tidak pernah memperlihatkan perasaan,” kata Christine Nicholson, PhD, psikolog yang banyak menangani terapi untuk remaja di Kirkland, Washington.

Riset menunjukkan, kebanyakan orangtua lebih sering bertanya pada anak perempuan tentang apa yang dirasakan dibandingkan kepada anak laki-lakinya. Hasilnya? Anak laki-laki akan cenderung malu memperlihatkan emosinya. Ia pun akan tumbuh menjadi pria yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik, sehingga sulit menjalin relasi dengan orang lain.

Yang Perlu Mama Lakukan: Ajari anak laki-laki Mama untuk mengekspresikan perasaan, dan beri dukungan saat ia melakukannya. “Anak laki-laki cenderung berfokus pada masalah, bukannya emosi,” kata Dan Kindlon, PhD, salah satu pengajar di Harvard School of Public Health dan salah satu penulis Raising Cain: Protecting the Emotional Life of Boys. Setelah itu, ajak dia untuk mencari solusi untuk menyelesaikan masalah sekaligus membuat perasaannya lebih baik.

2. Ajarkan Empati
Memiliki empati yang besar membuat anak laki-laki dapat memahami orang lain dengan lebih baik, sehingga pada akhirnya mereka akan menjadi teman, suami, dan ayah yang baik di masa depan.

Studi dari University of Michigan memperlihatkan, 40% mahasiswa sekarang memiliki kadar empati yang lebih kecil dibandingkan mahasiswa 20 tahun lalu. Dua penyebab utamanya menurut ahli adalah permainan video yang penuh adegan kekerasan sehingga anak tidak dapat memahami rasa sakit yang diderita orang lain, serta media sosial yang dipenuhi oleh “teman” virtual yang tidak pernah diajak berinteraksi di dunia nyata.

Yang Perlu Mama Lakukan: Dorong anak untuk menempatkan dirinya dalam posisi orang lain. Ambil contoh dari kejadian yang ia alami sehari-hari. Saat ia bercerita betapa lucunya seorang teman sekolah yang terpaksa pulang tanpa sepatu karena sepatunya disembunyikan teman-teman lain, Mama bisa bilang padanya, “Bayangkan kalau kamu yang dijahili oleh teman-teman seperti itu. Apakah kamu merasa lucu saat harus pulang tanpa sepatu?”

“Butuh waktu untuk mengajari anak berpikir dari sudut pandang orang lain. Namun, jika Ibu tidak menyerah, anak akan tumbuh menjadi orang yang bisa mengatasi situasi emosinya dengan baik,” kata Dr. Kindlon.

3. Kuatkan Keyakinan Dirinya
Ketika seorang pria yakin akan kemampuan dan kualitas dirinya, bukan berarti dia sombong atau narsistis. Itu berarti dia merasa percaya diri, mampu, dan berharga di mata orang lain. Nah, bukannya ini yang Mama harapkan dari anak laki-laki Mama?

Yang Perlu Mama Lakukan: Jangan biasakan memberi pujian palsu atau melebihi apa yang telah dicapainya. “Lebih baik pujilah usahanya ketimbang bakatnya,” kata Shari Young Kuchenbecker, PhD, Asisten Profesor di bidang Psikologi dari Chapman University di Orange, California. Studi dari Columbia University memaparkan, anak-anak akan merasa lebih puas dan lebih siap menghadapi tantangan bila mereka diberi pujian atas apa yang dilakukan untuk menyelesaikan tugas. Jadi, biasakan bilang, “Kerja yang bagus!” ketimbang “Ibu bangga padamu, Nak!”

Sumber : ["Woman's Day"]

Reporter : Irene Harris
Editor : Dini Felicitas

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×