Anak Cengeng

  • Kamis, 5 Juli 2012 09:00 WIB

Anak Cengeng

Intensitas dan kualitas tangisan setiap anak memang berbeda satu sama lain. Ada anak yang jarang menangis atau hanya menangis kala benar-benar merasa sakit. Tetapi ada juga anak yang sebentar-sebentar menangis bahkan disertai teriakan dan amukan. Nah, julukan si cengeng sering diberikan kepada anak-anak seperti ini. Menurut Ima Sri Rahmani, Psi., dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, julukan si cengeng menjadi tidak tepat sebetulnya karena setiap anak pasti mempunyai alasan di luar dirinya. Tangisan merupakan cara anak batita untuk mengomunikasikan sesuatu. Ketidakpuasan, ketakutan dan kecemasan, adalah beberapa kemungkinan sesuatu itu. Ada rumus yang dapat digunakan untuk mencari penyebab dan mengatasinya, A (attendance) + B (behaviour) + C (consequence).

* Attendance

Attendance adalah penyebab/latar belakang yang membuat anak mudah sekali menangis. Penyebab bisa berlangsung sejak bayi atau pada situasi saat ini. Aspeknya pun sangat beragam, mulai gangguan kesehatan hingga masalah psikis. 

* Behaviour

Behaviour merupakan perilaku yang meresahkan ditambah perilaku lain yang muncul bersamaan. Perilaku meresahkan itu adalah menangis, sedangkan tambahannya mungkin intensitas menangis yang berlebihan, sulit ditenangkan, disertai amukan, dan lainnya. 

* Consequence

Consequence adalah upaya mengatasi tangisan anak berdasarkan penyebabnya. Jika anak menangis karena mainannya diambil, maka konsekuensinya adalah anak itu harus mendapatkan kembali bonekanya agar mau berhenti menangis. 

 

Langkah Mengatasi

Untuk mengatasi kecengengan anak, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengatasi penyebabnya. Ini berarti gangguan kesehatan, trauma psikis, tekanan mental, keinginan yang tak terwujud harus dicarikan solusinya  terlebih dulu. Tak mungkin mengatasi masalah jika penyebabnya tak ditangani. Jika tak bisa menemukan sendiri akar masalahnya,  mendatangi ahli untuk berkonsultasi, dapat dilakukan. Lakukan pendekatan kepada anak. Anak 1-2 tahun biasanya lebih mudah didekati sebab metakognisinya belum sekuat di usia 2-3 tahun.

Pendekatan pada anak 1-2 tahun (yang kita anggap cengeng) adalah dengan masuk ke dalam dunianya. Pahami  apa yang terjadi pada si kecil lalu berikan ia kenyamanan/berikan apa yang dibutuhkan anak. Sederhananya, jadilah sosok yang siap membantu anak.  Setelah itu masukkan nilai-nilai padanya dengan menjadi panutan baginya. Jangan mudah meluapkan emosi di depan anak, selalu berkata santun, dan menunjukkan kasih sayang dengan baik. 

Sementara untuk anak usia 2-3 tahun, metakognisi yang sudah telanjur melekat padanya perlu diubah. Cari tahu cara yang lebih baik untuk memperoleh keinginan/kebutuhan anak dengan cara memahami dunianya. “Jangan menangis, bilang saja kalau Adek mau main,”  katakan selalu dengan cara Anda, bahwa bicara lebih bisa dimengerti daripada menangis sampai anak benar-benar memahaminya. Lambat laun anak akan mengubah kebiasaanya. Pada kasus ini reward dan punishment  dapat diberikan. Semoga dengan begitu kebiasaan menangis si kecil dapat berkurang!

Reporter : Ipoel
Editor : Ipoel

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×