Sebaiknya laki-laki disunat sejak bayi untuk alasan kesehatan.

Riset: Sunat Lebih Baik Dilakukan Saat Bayi?

Editor    : Ida Rosdalina

Tanggal : Senin, 20 Maret 2017

Berbagi :

Nakita.id - Sunat pada laki-laki terbukti bisa menghindarkan infeksi saluran kencing, saluran kemih, bahkan kanker kelamin. Penyataan ini dibenarkan oleh peneliti di Australia. Namun, sebuah studi menunjukkan bahwa sunat laki-laki sebaiknya dilakukan sejak bayi. Mengapa?

Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam World Journal of Clinical Pediatrics telah menemukan manfaat dari prosedur sunat bayi laki-laki. Studi oleh para peneliti di Universitas Sydney, Universitas New South Wales dan beberapa rumah sakit melaporkan bahwa laki-laki yang tidak disunat memiliki 80 persen risiko mengalami kondisi terkait kulup yang membutuhkan perhatian medis.

Sebagai perbandingan, risiko “efek samping” dari prosedur sunat sekitar 1 banding 250 atau kurang dari satu persen. "Selama hidup, lebih dari separuh jumlah laki-laki yang tidak disunat akan menderita kondisi medis merugikan yang disebabkan kulup mereka," kata ketua peneliti, Dr. Brian Morris, profesor emeritus di University of Sydney. Tak ditemukan bukti efek samping sunat pada fungsi penis, sensitivitas atau kenikmatan seksual, kata Dr. Morris.

Baca juga : Begini Proses Sunat pada Anak

Estimasi risiko dan manfaat oleh para peneliti didasarkan pada analisis data riset yang dikumpulkan dari 140 kajian riset berkualitas tinggi yang relevan di Australia. Studi telah menentukan tingkat perlindungan sunat laki-laki terhadap kondisi seperti infeksi saluran kemih, kondisi peradangan, infeksi yang ditularkan secara seksual, kanker kelamin, serta tingkat risiko yang ditimbulkan oleh prosedur sunat pada masa bayi.

Dr. Morris mengatakan sunat adalah intervensi kesehatan masyarakat yang diinginkan. Menurutnya, di Australia rumah sakit umum yang mengizinkan sunat laki-laki hanya untuk alasan medis sama saja dengan “hemat pada hal kecil dan boros pada hal besar”. Menurutnya, infeksi yang dapat dicegah ini bisa menghabiskan jutaan dolar dalam sistem kesehatan.

"Manfaat besar tapi risiko rendah membuat sunat bayi lebih dini mirip dengan vaksinasi anak-anak," katanya.

Dr. Tony Bartone, Wakil Presiden Australian Medical Association, mengatakan kajian tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut oleh komunitas kedokteran yang lebih besar.

“Memang, risiko-manfaat yang mereka bicarakan jelas mendukung kelanjutan sunat tapi jumlah risiko masih menjadi insiden yang terlalu rendah untuk diingat,” katanya.

Baca juga : Usai Disunat Anak Jadi Cepat Besar. Ini Alasannya

“Setiap kasus perlu ditangani satu per satu dengan informasi dan edukasi yang tepat,” Dr. Bartone menambahkan.

Ketika di Australia sunat masih menjadi perdebatan, di Indonesia, berdasarkan pertimbangan agama/kebudayaan, anak laki-laki disarankan melaksanakan sunat sebelum usia akil balik, yang artinya bisa saja di usia bayi.

Berbeda dengan ahli tadi, dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS dari Rumah Sunatan, kepada Nakita beberapa waktu lalu,  justru menyarankan sunat dilakukan pada anak usia SD.  

Baca juga : Sunat, Kapan Sebaiknya Dilakukan

“Mengapa di usia SD? Karena pada masa ini, anak diharapkan sudah lebih dapat menoleransi rasa sakit yang timbul dibandingkan jika dilakukan saat bayi dan balita. Secara psikologis yang bersangkutan sudah siap, dengan demikian dapat mengurangi risiko akibat tindakan sunat. Namun proses ini dapat dipercepat jika terdapat risiko atau penyakit tertentu pada usia lebih muda yang memerlukan penanganan dengan metode sunat,” kata Mahdian.

Sumber : www.news.com.au

PENULIS

Avrizella Quenda