Social Climber: Pamer Di Media Sosial Versus Kenyataan Hidup

  • Jumat, 11 Agustus 2017 22:00 WIB

Karena hal inilah banyak orang menyebut social climber adalah sebuah penyakit kejiwaan. Alasannya, karena social climber akan merasa gelisah dan takut jika terlihat miskin. | Thinkstock

Nakita.id- Sejak era sosial media merebak, sadar atau tidak banyak di antara kita telah menjadi seorang social climber, kerap bergaya hidup mewah, pamer hal-hal yang membuat banyak orang bilang wow, tapi status sosial aslinya tidak seperti yang dia gambarkan di sosial media.

Menurut situs urbandictionary.com,  social climber banyak terjadi pada perempuan dibandingkan pria. Sedangkan menurut kamus dari Cambridge,  social climber adalah mereka yang mencoba memperbaiki posisi sosial dengan bersikap seperti kalangan jet set. Padahal aslinya tidak seperti itu.

Baca juga: Jangan Posting 8 Foto Ini Di Media Sosial

Dari sini kita tentunya sudah bisa mengetahui,  walau tampaknya menyenangkan menjadi social climber, tapi ada risiko yang harus ditanggung dengan menjadi social climber.  

MENGHALALKAN SEGALA CARA

Seorang psikolog ternama dari Universitas Texas, Amerika Serikat, Art Markman PhD, seperti yang dilansir situs tempo.co.id, mengatakan untuk melihat fenomena social climber harus melihat teori hedonis-treadmill. Menurutnya teori tersebut menyebutkan setiap kali seseorang mencapai tujuan, maka dirinya akan menetapkan pandangan pada tujuan berikutnya.

Tujuan seorang social climber adalah mengejar gaya status sosial yang tinggi alias jet set. Nah, karena social climber menggapai status sosial jet set hanya dari gayanya saja, sejatinya dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan.

Kenapa? Karena tidak jarang, dalam upaya menjadi kalangan jet set dadakan secara instan, mereka kerap menghalalkan segala cara, tak terkecuali menyakiti dirinya sendiri.

Misal, demi mencapai tujuannya, meskipun penghasilannya tidak sampai 5 juta dalam sebulan, mereka nekat membeli handphone seharga 5 juta lebih bahkan hingga belasan juta.

Baca juga: 4 Kesalahan Orangtua Dalam Menggunakan Media Sosial

Sumber : www.tempo.co

Reporter : Gazali Solahuddin
Editor : Santi Hartono

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×