Meraba Perut Ibu Hamil, Sopankah?

By Ipoel , Kamis, 21 November 2013 | 01:00 WIB
Meraba Perut Ibu Hamil, Sopankah? (Ipoel )

TABLOID-NAKITA.com - Orang Indonesia punya berbagai kebiasaan yang dianggap sebagai cara menunjukkan perhatian atau sopan-santun. Contohnya, menanyakan tujuan seseorang ketika tanpa sengaja bertemu,meraba perut teman yang sedang hamil, atau mencubit atau mencolek bayi yang dianggap lucu, meskipun tidak kenal dengan orangtuanya. Namun di dunia Barat, kebiasaan seperti ini justru dianggap tidak sopan.

Michelle Troutman (30), seorang ibu hamil di Frankfort, Pennsylvania, Amerika, bahkan menuntut tetangganya, Richard J. Beishline (57), dengan tuduhan melakukan pelecehan ketika pria tersebut meraba perutnya tanpa meminta izin lebih dulu. Jika Beishline dinyatakan bersalah, dia harus membayar denda sejumlah yang ditentukan oleh hakim. Kalau yang terjadi sebaliknya, kedua belah pihak harus saling bersaksi di pengadilan.

Hukum negara bagian Pennsylvania mendefinisikan pelecehan sebagai perilaku melecehkan, mengganggu, atau mengklakson seseorang (tanpa tujuan), demikian menurut Phil DiLucente, pengacara yang berbasis di Pennsylvania.

“Hukum ini selalu berlaku, entah orang itu hamil atau tidak, namun setahu saya ini pertama kalinya hukum ini digunakan untuk kasus tersebut,” katanya.

Batas-batas pribadi ibu hamil memang selalu menjadi perdebatan selama ini, entah itu ketika seseorang menawarkan nasihat tentang kehamilan tanpa diminta, menanyakan sesuatu yang terlalu pribadi, atau meraba perut tanpa izin. Kebanyakan orang Amerika (dalam hal ini ibu hamil) tidak suka jika perutnya diraba orang tanpa persetujuan. Mereka merasa dianggap sebagai objek ketika orang lain dengan bebas menyentuh perut mereka. Sama halnya dengan menyentuh tubuh perempuan pada umumnya, tindakan ini dinilai sebagai pelanggaran terhadap teritori pribadi.

“Tidak ada yang salah kalau orang penuh rasa ingin tahu tentang kehamilan,” ujar Rebecca Traister, penulis Big Girls Don’t Cry: The Election That Changed Everything for American Women. “Masalahnya muncul ketika kita merespons secara fisik rangsangan yang dilakukan dengan menyentuh perut itu. Hal ini merupakan isyarat yang merefleksikan keyakinan budaya yang tertanam kuat bahwa tubuh perempuan itu boleh disentuh, entah secara seksual atau secara keibuan.”

Selama ini, ada keyakinan di bawah sadar bahwa kehamilan sangat terbuka terhadap opini publik. Penyebabnya, menurut Traister, karena perempuan sering menghadapi tekanan dari keluarga atau lingkungan sekitarnya untuk segera mempunyai anak.

“Hal ini menimbulkan pemikiran bahwa kehamilan sudah menjadi kepedulian masyarakat luas, yang merupakan bagian dari diskusi yang terus berlangsung mengenai kepemilikan atas tubuh perempuan,” paparnya.

Keingintahuan dari lingkungan sekitar itulah yang memicu terjadinya perilaku menyentuh perut, yang meskipun tidak dilakukan secara sengaja namun kerap tidak diinginkan si perempuan. Bagaimana dengan Anda, sukakah Anda ketika perut Anda diusap oleh orang yang tak dikenal?

(Risna Safitri/Shine)