Ingin Disiplin? Ajarkan Konsistensi Pada Anak

By Ipoel , Jumat, 6 Desember 2013 | 04:00 WIB
Ingin Disiplin? Ajarkan Konsistensi Pada Anak (Ipoel )

TabloidNakita.com - Mengajarkan konsistensi penting agar anak dapat memegang prinsip dan nilai-nilai positif kelak. Nah, dalam mengajarkan konsistensi peran lingkungan cukup besar dalam mengajarkan konsistensi anak. Jika sedari dini anak sudah terbiasa melihat perilaku yang tidak konsisten, anak pun akan belajar dengan caranya sendiri untuk bersikap tidak konsisten.

Seperti contoh, orangtua tengah membangun tatanan kepribadian anaknya, namun karena ada ketidaksepakatan dalam menyikapi perilaku anak, rusaklah tatanan kepribadian yang tengah dibangun tersebut. Padahal membangun kepribadian anak sejak dini merupakan investasi di usia besarnya nanti. Bila orangtua salah meletakkan dasar nilainya, maka proses pikir anak pun menjadi salah. Padahal proses pikir tadi mendasari perilakunya.

          Seperti contoh di atas, ketika anak memperoleh apa yang diinginkannya dari nenek/pengasuhnya dengan caranya merengek-rengek,  disini anak belajar dari mengamati lingkungannya, kepada siapa dia bisa memanfaatkan situasi yang ada. Suatu kali perilaku anak untuk bisa minum air dingin ini akan berulang. Anak akan memanfaatkan atau memanipulasi situasi maupun orang-orang dewasa yang bisa dimanipulasinya. Selain itu, anak juga akan dengan mudahnya dalam melanggar suatu aturan yang ada.

          Dampak dari ketidakkonsistenan yang diamati anak ini tak hanya berpengaruh pada satu aspek kehidupannya saja, tetapi banyak implikasinya dalam dimensi lainnya. Contoh: orangtua ingin menanamkan disiplin waktu belajar sejak usia prasekolah. Meski belajar di usia ini belum dalam arti sesungguhnya, melainkan melakukan  kegiatan bermain dengan media edukatif yang terarah. Seperti belajar menempel, menggambar, main pasel, dan sebagainya. Kemudian orangtua menentukan waktunya sekitar 15 menit di sore hari sekitar pukul 16.00-17.00, misalnya. Aturan ini harus dilakukan secara konsisten. Kalau kemudian anak melakukan negosiasi tak mau melakukan aktivitas di jam tersebut karena ingin main atau malas dan sebagainya. Kemudian orangtua membolehkannya maka ini pun menjadi tidak konsisten.

          Akibatnya, tak hanya pada masalah pembentukan disiplin anak saja namun implikasinya pada hal lain seperti anak tidak terbangun mental tafness/ ketangguhannya ketika menghadapi suatu kesulitan, daya juangnya rendah, tidak sabaran, tidak mau usaha, dan lain-lain. Hal-hal negatif ini akan terbangun dalam pribadinya yang tentu akan berdampak pula dalam kehidupan di usia selanjutnya.