7 Hal yang Perlu Ibu Ketahui Tentang Kulit Bayi

7 Hal yang Perlu Ibu Ketahui Tentang Kulit Bayi

Editor    : Ida Rosdalina

Tanggal : Senin, 17 April 2017

Berbagi :

Nakita.id - Banyak orang tua menganggap bahwa kulit bayi adalah kulit yang paling bersih dan paling ideal karena baunya harum dan sangat lembut. Padahal, tidak semua bayi terlahir dengan kulit sempurna, berikut 7 hal yang perlu diketahui seputar kulit bayi.

1. Jangan mengharapkan kulit bayi itu halus dan lembut. Kulit bayi yang baru lahir pada umumnya memiliki masalah seperti ruam, benjolan, bintik-bintik dan iritasi lainnya, terutama selama tahun pertama si kecil karena kulitnya masih berkembang.

Lapisan kulit paling atas (dikenal dengan epidermal barrier) tidak sepenuhnya matang sampai ia berumur sekitar satu tahun, kata Dr Lynn Chiam dari Children and Adult Skin, Hair and Laser Clinic di Mount Elizabeth Novena Specialist Medical Centre.

Dibandingkan dengan anak-anak yang berusia lebih tua, kulit bayi rata-rata 20 sampai 30 persen lebih tipis, menurut Dr Ong Ian, seorang dokter anak di Thomson Pediatric Centre (Katong). Hal ini membuat kulit bayi menjadi lebih rentan kering dan iritasi. Selain itu, bayi yang sering bersentuhan langsung dengan susu dan noda makanan, urin dan feses. Semua ini dapat menyebabkan iritasi lebih lanjut.

(Baca juga : 5 Masalah Dalam Merawat Kulit Bayi Baru Lahir)


2. Jagalah kulit bayi tetap bersih, namun jangan berlebihan. Kebersihan itu penting, tapi mandi yang berlebihan malah bisa membahayakan, Bu. Dr Lynn menyarankan untuk menjaga waktu mandi singkat, jangan lebih dari 10 menit dan hanya sekali sehari untuk bayi di bawah usia tiga bulan.

Menurut Dr Ong, dalam empat minggu pertama, bayi baru lahir cukup dimandikan dua sampai tiga kali seminggu. Hindari menggunakan kain lap selama bayi berusia kisaran ini, karena dapat mempercepat hilangnya air dari kulit. Setelah mandi, tepuk-tepuk lembut kulit si kecil hingga kering menggunakan handuk lembut. Handuk yang kasar dapat mengiritasi kulit halus bayi.

3. Ruam-ruam pada sebagian besar bayi tidak berbahaya. Kebanyakan ruam pada kulit si kecil tidak berbahaya dan sembuh dengan sendirinya, misalnya, adanya benjolan putih kecil (dikenal sebagai milia) atau jerawat (jerawat bayi) di wajahnya biasanya akan hilang sendiri. Namun, kondisi setiap bayi tentunya berbeda.

“Meskipun masalah kulit seperti jerawat pada bayi bisa hilang dengan sendirinya seiring waktu, beberapa bayi bisa mengalami masalah yang lebih parah dan membutuhkan pengobatan,” kata Dr Lynn. “Penting untuk mendapatkan diagnosis yang benar sebelum memutuskan apakah ruam itu cukup ringan untuk dibiarkan sembuh sendiri.” 

Kadang-kadang, ruam juga dapat menjadi tanda peringatan bahwa bayi Ibu memiliki beberapa masalah medis, seperti penyakit tangan, kaki dan mulut, cacar, campak, demam berdarah dan infeksi otak.

(Baca juga : 4 Masalah Kulit Bayi)

Berkonsultasilah dengan dokter jika Ibu melihat gejala berikut :

  • Demam dan rasa sakit yang disertai ruam, terlihat kurang sehat, rewel dan mudah marah.
  • Memiliki ruam yang luas, yang melibatkan beberapa area permukaan.
  • Memiliki ruam persisten yang disertai dengan nyeri, atau terasa hangat di area yang terkena ruam dan sekitarnya.
  • Memiliki ruam yang mulai melepuh.
  • Mengalami penyebaran lesi memar tiba-tiba.

4. Ruam juga bisa menjadi reaksi alergi. Ibu mungkin melihat bintik-bintik merah yang kian banyak, serupa gigitan nyamuk, pada kulit bayi. Sering disebut gatal-gatal, bintik-bintik merah ini memang gatal – dan menggaruknya hanya memperburuk masalah. Menurut Dr Lynn, ruam yang terasa gatal biasanya pertanda bayi memiliki reaksi alergi terhadap makanan tertentu atau gigitan serangga, meskipun kadang-kadang itu juga terjadi tanpa alasan tertentu.

Eksim adalah ruam gatal lain yang dapat dipicu oleh alergi. Kulit bayi mungkin terasa kasar dan kering, bersisik atau mengelupas, kata Dr Lynn. Pada kasus yang parah, kulit bahkan dapat berdarah atau mengeluarkan cairan karena tidak berhenti digaruk.

Penting untuk mencari bantuan tenaga profesional jika bayi mengalami gangguan masalah kulit karena alergi. Mintalah kepada dokter anak untuk tes tusuk kulit jika Ibu menduga bahwa makanan tertentu atau alergen lingkungan, seperti bulu hewan peliharaan menjadi pemicu ruam.

5. Gunakan sabun dan pembersih bebas pewangi. Seperti frekuensi mandinya, Ibu juga harus berhati-hati dengan jenis pembersih yang digunakan untuk membersihkan tubuh bayi. “Sabun Alkaline terlalu agresif untuk kulit bayi, bahan ini mengeringkan kulit bayi, menghilangkan minyak dari permukaan dan mengubah pH kulit,” tutur Dr Ong. Ia menambahkan bahwa mempertahankan pH yang tepat sangat penting sehingga kulit bayi dapat berkembang dan matang dengan benar.

Baca juga : Cara Tepat Merawat Kulit Bayi Baru Lahir Agar Tetap Bersih dan Lembut)

Pilih produk sabun yang bebas pewangi, dan tidak memiliki pewarna tambahan dan bahan kimia lainnya. Hindari produk yang memiliki bahan seperti “phthalates” dan “paraben”. Jika bayi rentan terhadap eksim, pilih pembersih cair dengan menambahkan pelembab.

6. Hindari menggunakan bedak bayi. Partikel-partikel kecil bedak jika terhirup bayi bisa menyebabkan masalah paru-paru, terutama pada bayi prematur atau mereka yang memiliki saluran udara sensitif. Alih-alih menggunakan bedak bayi, seringlah mengganti popok kotor dan membersihkan bagian bawah dengan air atau tisu basah bebas pewangi dan alkohol untuk menghindari ruam popok.

Papar daerah popok terhadap udara sesering mungkin dan lindungi dengan krim. Jangan remehkan ruam di area popok, kata Dr Lynn. Menurut dia, ada beberapa jenis ruam popok dan yang terbaik adalah untuk memeriksakan bayi Ibu ke dokter untuk mengobatinya.

7. Deterjen untuk pakaian bayi bukan keharusan. Gunakan deterjen ringan tanpa menambahkan wewangian, pewarna, paraben dan natrium dodesil sulfat (bahan pembersih sintetis) yang ideal, kata Dr Ong.

(Baca juga : Muncul Jerawat Pada Bayi Baru Lahir, Berbahayakah)

Tetapi menggunakan deterjen biasa dalam jumlah yang lebih kecil untuk mencuci pakaian bayi tentu akan baik-baik saja, kecuali ia memiliki kulit yang sangat sensitif, kata Dr Lynn. Masih khawatir? Periksa reaksi dengan menggunakan tes sederhana: cuci 1-2 pakaiannya menggunakan deterjen biasa.

“Jika kulit bayi Anda baik-baik saja setelah memakai pakaian, maka pemakaian bisa dilanjutkan. Jika ruam terjadi, cobalah untuk menggunakan deterjen yang memiliki jumlah minimal wewangian dan pengawet,” kata Dr Lynn. “Atau, Anda dapat bilas pakaian sebanyak dua kali.”

 

Sumber : young parents

PENULIS

Avrizella Quenda