Penyebab Kegagalan Alat KB yang Bikin Kebobolan Hamil

By Gazali Solahuddin, Senin, 28 November 2016 | 04:00 WIB
Sudah pakai KB, tapi kok kebobolan hamil? (Dini Felicitas)

Tabloid-Nakita.com - Jangan buru-buru menyalahkan alat kontrasepsi jika Mama kebobolan hamil. Bisa jadi karena aturan pakai yang tak dipatuhi. Untuk itu, kenali aneka alat kontrasepsi, dan faktor-faktor penyebab kegagalan alat KB ini.

Kontrasepsi Hormonal Prinsip kerja kontrasepsi hormonal adalah mencegah ovulasi atau mencegah terbentuknya sel telur yang matang, membuat dinding dalam rahim menjadi kurang subur, dan membuat lendir serviks menjadi kental sehingga sperma sulit masuk ke rahim. Yang termasuk kontrasepsi hormonal adalah:

1. Cincin vagina hormonal Cara kerja alat kontrasepsi ini, cincin yang berisikan hormon dimasukkan ke dalam vagina. Cincin ini dipakai selama 3 minggu berturut-turut, minggu ke-4 dilepas selama 1 minggu untuk memberi kesempatan mens, minggu ke-5 dipakai lagi selama 3 minggu, dan seterusnya. Potensi kegagalan alat KB ini hanya 1%, terutama karena waktu pemasangan yang salah, seharusnya dalam 5 hari pertama menstruasi, tidak boleh sering dicopot dan harus sering dicek keberadaan cincin supaya tidak terjatuh, terutama pada perempuan yang vaginanya agak longgar. Alat kontrasepsi ini tidak populer di Indonesia.

Baca: Stres Karena Kebobolan Hamil, Lalu Bagaimana?

2. Koyo Prinsip kontrasepsi ini adalah hormon dimasukkan ke dalam koyo lalu diserap oleh kulit, di dalam darah diubah hormonnya menjadi seperti hormon pada pil kontrasepsi. Masalahnya, jika koyo yang usia pakainya satu minggu dan biasa ditempel di kulit ini, terlalu sering terkena air apalagi sampai dibasuh menggunakan sabun dan atau air hangat, keampuhannya bisa menurun. Jika demikian, kemungkinan Mama bisa hamil menjadi besar. Jadi, supaya koyo tetap efektif, tidak ada cara lain selain menghindari “mencuci” tempat yang ditempeli koyo. Kontrasepsi koyo juga tidak populer di Indonesia.

Halaman berikutnya -->

Narasumber: Dr. IB. P. Widiarsa, SpOG, RSIA Gran Family PIK, Jakarta