Psikolog pendidikan sekaligus hypnotherapist ini menekankan kembali, dampak positifnya adalah anak mungkin terlihat patuh dan seakan-akan disiplin.
"Tapi, efek jangka panjangnya ke anak itu adalah anak punya konsep diri yang buruk. Merasa dirinya tak berharga bahkan tak berdaya," ungkap Erika.
"Orangtua jarang sekali memberikan apresiasi ke anak. Minim sekali kesempatan bagi anak untuk melakukan negosiasi atau menyampaikan pendapat," katanya menambahkan.
Sehingga, lanjutnya menyampaikan, anak bakal merasa kalau, 'Ini tuh enggak mempan, enggak akan mampu'.
"Jadi, konsep dirinya juga buruk," lanjutnya.
Selain itu, karena pola asuh otoriter ini ditandai dengan hukuman, biasanya anak dengan pola asuh ini juga berdampak pada fisiknya.
Salah satunya, anak memiliki tingkat kecemasan yang tinggi.
"Sering kita temui anak-anak yang mau ujian itu tahu-tahunya di sakit perut. Atau tiba-tiba, ada muncul keluhan-keluhan seperti sakit kepala," ujar Erika.
"Jadi, ada dampak ke fisiknya juga," lanjutnya.
Baca Juga: Cara Menciptakan Pembelajaran Efektif dan Menyenangkan pada Anak Sejak Dini, Beri Kebebasan
Moms, satu-satunya pola asuh yang sebenarnya ideal untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan adalah pola asuh demokratis.
Rekomendasi Sunscreen untuk Si Kecil: Gently Sunscreen SPF50+ PA++++ dengan Serum Anti-Polusi!
Penulis | : | Shannon Leonette |
Editor | : | Kirana Riyantika |
KOMENTAR