Nakita.id - Moms, setiap orang memiliki gaya hidup yang berbeda, bahkan saudara kembar sekalipun.
Gaya hidup ini terbentuk dari kombinasi apa yang sudah ada sejak lahir dan pengalaman hidup.
Pola ini mulai berkembang sejak usia tiga hingga lima tahun dan akan tetap bertahan seumur hidup. Meski begitu, cara seseorang mengekspresikan gaya hidupnya bisa berubah sesuai keadaan.
Pada masa kanak-kanak, pengalaman emosional memiliki peran besar dalam membentuk gaya hidup.
Seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kasih sayang cenderung memiliki pola pikir yang optimis dan percaya diri.
Sebaliknya, anak yang merasa diabaikan atau kurang dicintai sering kali mengembangkan pola pikir defensif untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional.
Mereka mungkin menganggap bahwa kasih sayang bukanlah hal yang penting, sebagai bentuk perlindungan diri dari luka masa lalu.
Setelah gaya hidup terbentuk, mengubahnya menjadi sangat sulit.
Contohnya, seorang anak yang merasa tidak dicintai mungkin akan meyakini bahwa kasih sayang tidak penting baginya. Ini menjadi cara untuk melindungi diri dari rasa sakit di masa lalu.
Daripada berusaha memperbaiki pengalaman masa lalu atau berharap masa depan lebih baik, orang ini cenderung mempertahankan keyakinannya.
Hal ini menunjukkan bahwa mempertahankan pola yang ada lebih mudah daripada mencoba mengubahnya.
Baca Juga: Mendorong Infrastruktur Ramah Pemenuhan Hak Perempuan, Anak dan Kelompok Rentan
Penulis | : | David Togatorop |
Editor | : | David Togatorop |
KOMENTAR